ijonk 6 mini

Aku Harus memilih Apa

Aku harus memilih apa? Apabila perjalanan yang kita tuju telah terhapus dan berubah menjadi tanah tandus. Rumputrumput yang dulu kita jemput, sekarang luput dan perlahan merenggut perasaan. Seakan percuma, ketika dulu suatu hari merajah janji, bilanya waktu tak biarkan kita merapatkan hati.

Setidaknya aku masih ingat, ketika kita dulu pernah saling menghangat. Lalu, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, tak peduli waktu tak risaukan linu, selama kau memendam rindu biarkan aku memberikan dadaku untuk sandaranmu.

Seumpama laut menampung takut, maka kau siramiku dengan air matamu, tapilah kutahu basahnya datang dari awan kepasrahan di dadamu. Mungkinkah aku harus lari dari hujanmu, sebab detik hidupku terangkum pada rintik langkahmu. Tak menyerah pada pasrahmu hanyalah lelah menahan resah. Biarkan segalanya membisu terhanyut sungaisungai rindu.

Aku tidak berpikir untuk memilih, ketika masa lalu mengirimkan dirimu untuk seluruh waktu, sampai akhirnya kau bungkus waktu dengan bisu. Bersamamu jalani dunia menuju surga, menjadikan luka semacam gula, ataulah, melepaskanmu demi luka tak semakin menganga. Haruskah itu menjadi pilihanku?

Mungkin aku memang lengah, ketika langkahlangkah melemah, kau dan aku menjadi asing pada selimut kita. Membiarkan telurtelur pilihan menetas di batas malam, sebab cinta memang tak ingin kita memilih di antara siang yang terang. Meski suatu kali aku peduli, memperkirakan lahirnya sebuah pilihan hanya mempersempit ruang aorta. Denyut jantungku seakan saling beradu cepat dengan degupnya rindu.

Aku harus memilih apa, ketika kunamai rindu dengan namamu, aku selalu berpikir mencintaimu tak perlu banyak alasan, sebab alasan adalah lautan buas yang sewaktuwaktu menenggelamkanku untuk tidak mencintaimu.

Tapilah mungkin alasan dalam sebuah cinta adalah hiasan di antara indah bunga. Ketika bunga layu dak tak mungkin lagi kurindu, aku masih memiliki alasan untuk menjadikanmu terminal rindu bagi sengal nafasku.

Apapun alasan itu. Aku tetap memilihmu, ketika perkara cinta hanya sekadar dipilih dan memilih, maka aku serahkan pilihan kita pada derap gagapmu di ujung malam.

Aku harus memilih apa? Ketika cinta itu kau, yang sekarat kecuali dengan kita saling berpegang erat.  Semoga kau juga banyak menyimpan alasan, menjadikanku sebagai buah pilihanmu.

Leave a Reply