Ijonk 2 mini

Haruskah Lewati Jalan Ini

Haruskah aku lewati jalan ini, hei kamu, ketika kemarin siang aku bersandar di sudut kabut yang terlambat surut, matamu hanya sekali menusuk jendela mataku: kemana aku ke arahmu. Inikah jalan yang perlu kujejak, jalan menuju kesepianmu yang matang di masak rindu. Kau melewatiku tanpa sedikitpun memberi sedikit sandi, kecuali degup hati, tak mungkin aku kan pergi mencarimu

Tak ada air mata, tak terdengar kesepian, selain ruparupa wangi bunga, mungkinkah itu raut wajahmu? Adakah yang kau sembunyikan dari keramahan kemarin? Aku masih menderap butir tanah merah dari bekas jejakhentak kakimu.

Selain sayup dan kuyup basah wajahmu, yang membuatku sulit merapal namamu, dan langit berkelahi sengit  menghimpit hela nafasku, kemanakah hatiku mesti membungkus resah. Ketika resah telah tajam terasah banyak gelisah. Aku semakin tenggelam pada kolam masa silam. Menemukan kenyataan, bahwa kau dan aku lahir dari sedikit yang terpikirkan, oleh kita berselimut gelisah.

Haruskah aku lewati jalan ini, hei kamu, untuk mendapatkanmu, ketika setapak bekas jejakmu terlihat rusak dijerat masa lalu. Kau dan aku hanya menjadi tumpukan pelarian yang lepas dari kubangan rasa sakit.

Haruskah aku lewati jalan ini, hei kamu, untuk mendapatkanmu, saat aku hendak membawa terbang bersama kepak mimpiku, ke dunia yang menyelinap di antara subuh jauh, aku ingin kau bersamaku, menjahit masa lalu untuk kita yang masih memiliki harap.

Aku akan melewati jalan lain, apabila jalan mendapatkanmu sesak tertimbun bekas luka. setidaktidaknya kau dan aku masih bisa melihat jalan esok di antara bola matamu juga kelopak mataku. Ketika ada air mata yang terbagi, kita masih bisa jalani hari. Saat dua mata saling memberi, aku percaya kau dan aku bisa menjadi kita.

Dan aku memilih cara lain, saat ruangruang harapan tertutup keputusasaan. Tutuplah matamu, di gerimis yang perlahan habis ini, aku menyelinap di antara sela ragamu, dan biarkan tetes air hujan membasahi hatimu, percayalah: masih ada aku

Leave a Reply