hujan-pun-reda

Hujan yang Reda

Hujan pun reda begitu saja. Beralih gerimis seketika. Ketika beberapa kenangan masih belum usai terbayang: langit perlahan sepi. Menjelma katak, berebut genangan air pada cekungan jalan. Tetapi gemuruh langit belum redam. Mengusik kenangan yang terlampau dalam. Menjelma detak yang sulit terungkap. Padahal langit, meski hanya gerimis, masih belum usai menayangkan perasaan.

Aku pun diam, menengadahkan pandang ke angkasa:

“Pertemuan itu telah disimpan langit, bersama hujan ia turun kembali, dan aku menyebutnya sebagai kenangan”.

Pada setiap hujan, kita pasti mencari reda. Meski kadang reda hanyalah jeda sebelum akhirnya hujan tiba dengan gemuruhnya lagi. Burung yang berteduh belum akan menampakkan sayapnya sampai langit kering. Dan daun hanya menyisakan sedikit air berupa bulatan bulir.

Lalu payungpayung kembali mengatup setelah merasa bahwa hujan selesai membasahi perasaan. Di saat yang sama, aku menunggu dengan sabar. Menunggu wajahmu terhapus dibasuh basahnya hujan.

Berlamalama dalam kenangan adalah berlamalama dalam kesakitan. Hanya aku yang bisa merasakan.

Sejak aku bertemu pada malam itu. Aku tersesat di hutan hujan, basahnya tak mampu kutahan. Berulangkali darahku berembun ditetesi ilusi dirimu. Kala hujan tak kunjung reda, kala resah semakin basah, aku butuh dirimu.

Dan kau tahu, ada banyak lampu yang padam dalam jiwaku ketika malam buta tumbuh subur di keheningan rinduku, dan itu tanpa wajahmu.

Sebelum pertemuan itu, basah air hujan, rintik yang mencubit pipiku, hanyalah kedinginan tanpa kehangatan dan tujuan pulang.
Setelah pertemuan itu, basah air hujan yang mengecup kening, masuk ke dalam pikiran, menjelma ingatan itu: ketika aku tertegun saja di hadapanmu.

Rintik air hujan, menuntunku segera pulang dan merebah dalam lamunan. Dan berharap namamu disampaikan angin lewat jendela rumah yang kemudian terpampang pada langit kamar.

Ketika hujan begitu panjang, tak ada yang bisa kita harapkan selain reda. Ketika perasaan terlalu melayang, tak ada yang bisa disandarkan kecuali jeda. Melihat kembali kenapa aku rindu, dan mengerti bahwa kau adalah rumah kepulanganku.

Ketika hujan reda. Kita mesti mengerti, hati yang jatuh tak bisa menyalahkan perasaan. Sebab perasaan hanyalah perjalanan kerisauan dari masa lalu sebelum akhirnya menemukan kembali muara kehidupan.

Kemudian reda, hujan perlahan kehilangan basahnya. Meski begitu, hujan dalam jiwaku, masih lebat membabat seluruh sukma. Enggap menguap bersama langit yang kering.

Di hatiku hujan kian enggan reda, menenggelamkan telaga perasaan yang mulai bangkit dari sakit. Kau percaya aku merindukanmu, ketika kau kau kira aku melupakanmu bersama hujan reda, jiwaku justru tenggelam dalam tubuhmu.

Suaramu ada dalam telinga dan jiwa ini, menyelimuti sekeliling heningku.

Kini musim tak jelas dimana bermukim. Tibatiba saja hujan tiba, tibatiba kemudian reda. Begitu senyap dan gegap batinku ketidakpastian hadirmu.
Tak ada yang lebih diinginkan dari jeda ketika perasaan terlalu berat menginginkanmu.

Perasaan adalah keraguan yang mudah berubah rindu. Dengan jeda, rindu akan tahu kemana mengetuk pintu.

Pada hujan reda, yang beralih gerimis tipis, aku berharap menemukanmu arti mencintaimu. Dan pada akhirnya, mengingatmu adalah kepastian dari sebuah pertemuan. Semoga saja, aku tak perlu mengingatmu selamanya, cukup melihatmu saja.

2 Comments

  • Anjarsari November 25, 2016 Reply

    So sweet ..
    Keren banget kak.. jadi bapet bacanya

    • ijonk November 29, 2016 Reply

      terima kasih banyak 🙂

Leave a Reply