langit-mendung

Langit yang Mendung

Aku pandangi horizon yang luas lapang, sudutnya tak terjangkau membentang. Angin sudah tidak lagi datang pada selasar ingatanku. Gemuruh yang riuh dari beragam serangga tidak lagi menghiasi halaman telingaku. Mungkin hari ini ada yang ingin datang menjadi kenangan. Sebuah nama, sebuah cerita, dan beberapa situasi yang membawa daun terpaksa jatuh sebelum angin bertiup. Wajahmu pun muncul perlahan di antara awan.

Cuaca hari ini bergerak tak seimbang, kumpulan awan kembang kempis bergerak tanpa ada alasan yang bisa ditepis. Hujan masih ragu untuk turun, seperti malu atau mungkin gagu melihat kita yang tersekap rindu. Langit makin abuabu, hitam memendam rindu, menyadarkan perasaan bahwa ingatan bisa dipilah sebelum dipilih menjadi kenangan.

Langit yang mendung, juga perasaan rindu yang sulit dibendung, bersiap tumpah menjadi air mata ketika langit pecah. Kita pun berpasrah, semoga hujan membawa hati kita pulang pada kenangan yang semestinya.

Ketika hujan adalah kenangan, maka langit yang mendung adalah bendungan rindu, siap mengaliri pematang perasaan yang limbung setelah sekian lama diterangi harapan. Langit yang mendung adalah tanda, bahwa sebelum kenangan tiba, kau dan aku adalah satu cerita yang tak selesai. Dan ketika kita tak saling melerai di tengahtengah cerita, langit yang mendung adalah koma, sebuah jeda tempat menafsirkan bahagia, sebelum akhirnya titik menjadi rintik hujan, dan kita pun pasrah terjebak dalam kenangan.

Langit yang mendung, rindu yang dikandung, pada akhirnya hanya melahirkan kenangan. Begitulah kita yang setia mengingat langit, saat kita berdua duduk bersandar pada rumput di atas bukit. Mungkin nanti kau dan aku akan sendiri, tanpa ada kita, hanya ada kesepian yang masih tetap setia menatap langit.

Pada mulanya langit terik, membuat mata kita sakit melawan harapan yang dulu begitu terang. Sampai akhirnya langit perlahan mendung, biru bercambur abuabu, entah akan hujan atau sekadar menguji, adakah rindu yang membisu pada perasaan yang ditinggalkan. Sebab melawan perasaan adalah menjadikan kegagalan sebagai pintu pulang.

Hujan pun akan turun, langit yang mendung, sudah berkilatan dihempas petir. Aku yang getir, terdiam melihat wajahmu terparkir pada langitlangit perasaan. Mungkinkah kau, akan menjadi takdir dari seorang fakir kerinduan, yang bahkan menerjemahkan nadir, mengalami kegaguan yang bisu.

Selama ini kita lugu dan percaya pada cuaca yang ada. Hujan adalah kenangan, gugur adalah getir, kering adalah genting, dan semi adalah sepi. Sebelum cuaca tiba, ada langit yang mengabarkan. Seperti kita yang telah menitipkan bayangan, langit akan mengibarkan awannya sebagai tandatanda sebuah cinta.

Langit makin mendung, bagi kita yang sakit, hujan adalah menjebak diri pada halhal yang tak diinginkan. Rinti hujan adalah jarum suntik yang menusuk ke dalam dan meracuni aliran darah dengan kerinduan. Kau dan aku, bahkan belum sedikitpun menentukan alur cerita pada jalan yang akan dijejakkan. Ketidaksadaran perasaan menenggelamkan pada jalur yang kita serahkan pada kejutankejutan Tuhan. Dan aku, mau tidak mau terpaksa menikmati siksa, perasaan yang mau tidak mau musti dirayakan, sebab Tuhan, ciptakan dunia ini sebagai permainan.

Sebelum langit makin mendung, aku ingin merindukan kesepian tanpa suara, yang membawaku pada perasaan tak terbendung. Sampai akhirnya, namamu adalah muara dari segara cerita.
Takutku, bukan pada hujan, melainkan mendung berkepanjangan. Memaksaku mengitari ingatan yang semestinya sudah terlupakan.

Sebelum hujan turun, aku ingin mencintai ingatan, sebab aku tak mampu memilih dan memilah perasaan. Sebab kita kita satu cerita dalam satu buku kehidupan, yang diawali getirmu dan diakhiri getarku.

Pada langit yang mendung, rahimku mengandung namamu, dan tak ada yang dilahirkan, kecuali kamu.

15 Comments

  • Widya Nhuryell September 8, 2016 Reply

    it’s the best present Mr.Ijonk 🙂

    • ijonk September 8, 2016 Reply

      terima kasih banyak 🙂

  • anis September 9, 2016 Reply

    Keren banget !!!

  • Jumi Panjaitan September 10, 2016 Reply

    “Takutku bukan pada hujan, tapi mendung yang berkepanjangan. Memaksaku mengitari ingatan yang semestinya sudah terlupakan”

    Kena di kalimat ini.. baper disitu

    • ijonk September 10, 2016 Reply

      maaf ya kalau bikin baper 🙂

  • Alea rm September 10, 2016 Reply

    Membuatku merasakannya dgn teramat dalam…keren mas ijonk…

    • ijonk September 10, 2016 Reply

      terima kasih atas apresiasnya 🙂

  • Rossy September 11, 2016 Reply

    kerenn bangettt bang ijonk.. bner bner kerennn.. tersentuh bacanya..

    • ijonk September 13, 2016 Reply

      terima kasih ya 🙂

  • Untung Kasirin September 16, 2016 Reply

    keren banget bang ijonk… 🙂 seorang mastah yang merangkap pujangga. jadi penasaran arti ijonk sebenernya apa…

  • Diah September 20, 2016 Reply

    Hujan..
    Selalu membawa pesan yg beragam bagi setiap orang

  • astutidian September 21, 2016 Reply

    good writing bang ijonk, patiently waiting for your next one ^_^

  • Dewi September 21, 2016 Reply

    Ketidaksadaran perasaan menenggelamkan pada jalur yang kita serahkan pada kejutankejutan Tuhan. Dan aku, mau tidak mau terpaksa menikmati siksa, perasaan yang mau tidak mau musti dirayakan, sebab Tuhan, ciptakan dunia ini sebagai permainan.
    ^nice

  • lissusi susanti November 16, 2016 Reply

    Suka banget pada tiap bait puisi yg aku baca dengan penghayatan ,terasa nyata membuatku mengigat nama seseorang yg membuatku larut pada kenangannya ..ini keren bang ijonk ,support banget agar terus bekarya..aku ingin jadi fans anda ,karna aku kagum dengan puisi puisinya
    Salam kenal dari saya ,lissusi (Blora,jawa tengah)

    Maaf berlebihan ✌

    • ijonk November 17, 2016 Reply

      terima masih banyak atas apresiasinya 🙂

      salam kenal

Leave a Reply