pexels-photo-66758

Risau

Kerisauan di seberang sungai, perlahan hanyut terendam airnya yang enggan surut, berlabuh ke sudut laut. Dan sebilah hati yang sepi berdiri dibatas pantai, melihatlihat ombak yang pergi dan kembali begitu cepatnya.  “Ada ruang yang perlu kita sediakan untuk sebuah kejutan, seperti ombak yang pergi dan kembali tanpa kita sadari, lalu dengan bijaknya kita hanya bisa menggigil serta memejam mata”.

Aku risau, pada hujan panjang yang datang tidak pada langitnya. Sebab ada tanah merah yang tak kunjung siap kembali basah. Pikirnya, segala sesuatu tentulah datang dengan sebuah tanda.

Aku mendesau, melihat bangau yang mengepakkan sayapnya dan mengagetkan ikan di danaunya yang tenang. Batinku, bisakah kau datang ketika suasana sudah arif menerimaku. Dan tak semestinya matamu yang alum datang pada kelopak mataku yang kosong terusir masa lalu.

Aku berpikir, awalnya kau sekadar hadir ketika perasaanku masih lembab diremas nadir, dan tak pernah menerka segala yang sumir akan berbuah takdir. Namun sayang, bibirku masih ragu membuka kata. Aku membisu, dan kau berlalu.

Dan di antara doadoa terhantarkan, wajahmu terangkum pada luas tanganku, menjelma ketakutan pada kenangan. Lalu ruas jemari menarinari tayangkan harihari yang telah kulewati. Padahal masih ada doa yang masih entah berujung kemana

Ada harapan yang mesti dirawat, disiram dengan hangat doa, agar ia tumbuh merambat dengan cepatnya. Membesar, mengikuti pagar yang dengan sabarnya menjaga dari desah dan hela nafas yang panjang. Begitulah pohon merambat mengajarkanku melihat alirah darah yang menyempit di bulat wajahmu.

Ombak dan riak hanya ingin bergerak, tanpa peduli perahu kita arak, dan layar dibentangkan kepada siapa. Angin yang dingin hanyalah membekukan banyaknya ingin. Seperti burung pelikan hitam berkepakkan, dia datang untuk mengarahkan. Kemana sebaiknya risau ini menuju.

Dan tak semestinya kita gelisah pada kesepian, sebab kenangan tak akan jatuh pada pelupuk mata yang salah.

Dan tak semestinya kita sakit pada masa lalu yang bangkit. Tanah tak pernah bisa mengelak kemana kaki melangkah, sebab perjalanan telah memberikan banyak hadiah.

2 Comments

  • Diah September 20, 2016 Reply

    Sastrais sekaliiii….

  • tri rahayu September 22, 2016 Reply

    Suka sekali sama tulisan tulisanny…..semoga bsa mengikuti jejaknya mas ijonk….

Leave a Reply