ijonk 13 mini

Selepas Kau Pergi

Sekarang mungkin kita bisa tenang, atau mungkin purapura tenang. Ketika tak ada lagi langit malam yang harus kita tunggui sampai pagi memperlihatkan lidahnya yang bergigi. Sebab menjadi percuma kerinduan dinyalakan, malam terlalu sepi, dan sepi semakin menyelimuti kita yang memilih sendiri. Dan ketenangan sebab sepi mau tidak mau berujung pada mengenang. Semacam sungai yang tenang airnya, tanpa ikan tiada batuan, kehidupan menjadi tanpa daya. Melelahkan.

Selepas kau pergi, tak ada lagi bahan yang bisa kumasak tiap kali hati ini lapar. Setidaknya begitulah hati bergetar, menjalar sampai ke luar nalar ketika mengetahui tak ada lagi yang bisa memberinya cinta. Padahal, seucap kata, sekelebat mata, sudah cukup untukku menyajikan cuaca kehidupan. Bukankah semestinya setiap hati memiliki bayangan yang sama, soal wajah bulan yang datang tiap malam mengetuk langit. Apalagi kalau bukan ingin terkait dengan wajah di langit.

Tak ada lagi yang bisa kutunggu dengan sangat ketika sabtu dan minggu hanya akan menjadi jalanan tak berpenghuni. Harihari berlari begitu lambatnya menggelayut pada laut yang sungkan surut. Dan masa lalu menjadi lapar mencari korban bagai malaikat maut menjemput. Almanak meranggas tanpa ada seorangpun yang pernah menjenguknya meski sekadar menengok awan merah di langitnya.

Dan di antara barang kenangan, aku melihatlihat dimana aku dimana kamu ketika benda ini menjelma pelabuhan rindu. Aku berziarah pada secarik kertas yang terselip di selasela benda yang kita sebut   telaga makna. Tiaptiap hurup kurapal dengan doa, barangkali di antara kalimat yang kau tuliskan, terselip simpangan yang membuat kita bertemu kembali. Meski sesaat, aku ingin kita duduk sejenak, membicarakan masa depan barang kenangan yang masingmasing telah kita simpan. Setidaknya, ketika kita pergi, barang kenangan ini bisa bersama menjalani masa depan. Tanpa kita.

Di dalam kamar, aku membangun sungai, penuh riak dan kicau burung jalak. Berlayar sampan berpenumpang harapan, terombangambing airnya yang menghempas dayung ke ujung. Padahal di sini tak ada siapasiapa kecuali aku yang mengembara ke belantara memori. Harihari tercecar, terdampar sampai ke alam liar. Aku mendayuh sampai jauh, melarikan diri ke kutub sepi, adakah yang mencari. Air mata tak tertampung seperti ibu yang mengandung cinta, sabar sampai cinta terlahirkan.

Di dalam kamar, aku meresapi kemarin, mungkin saja ada yang terlupakan. Di antara malam, aku mencaricari langit, semoga saja masih ada yang kubayang meski sedikit.

Kita tertawa pada saat itu. Aku tersenyum sempit dan matamu menyipit bersama paruh parkit yang malumalu mengintip di balik ranting. Sengaja kita tidak berucap dengan banyak bait. Ini perpisahan, tak semestinya kita bermainmain dengan rasa pahit. Kecuali selamat tinggal, tak ada lagi yang bisa kuabadikan dari banyak pertemuan kita.

Dan Selepas kau pergi. Aku masih sering bermain ke taman ini, meski seluruh pertemuan telah berubah hembus angin dingin. Masih saja tanah ini menggiringku berjalan kemari. Meski pedih, aku senang bahwa dulu aku pernah menikmati senja yang perlahan masuk ke kantung malam, bersamamu.

Selepas kau pergi, aku memilih menanti harihari bergulir tanpa pernah kuukir. Dan aku masih tersenyum mengingat perpisahan itu, ada sepenggal selamat tinggal bergulir dari bibirmu. Suaranya, tidak lebih besar dari desahan kata cinta yang mengalir lewat getar hatimu pada jiwaku.

Selepas kau pergi, aku masih seperti dulu, mencintaimu.

One Comments

  • nynna September 8, 2016 Reply

    Pilihan kta2nya smpe k hati…

Leave a Reply