ijonkmuhammad

Semenjak Aku Beranjak

Semenjak aku beranjak dari jarak. Aku perlahan mengenal detak. Bunyinya yang sepi takut untuk terungkap. Dan malu menyebutnya sebagai sesak. Bila bukan sengal nafas semakin menderu, entah selama apa aku menahan kalbu. Padahal air mata, bergelantung tak sabar terjun pada kedalaman tebing pipiku. Meluncur bebas sampai ke pinggiran bibir. Dengan basah dan terbata. Aku menyebut namamu dalam jarak dan ragu.

Dalam tubuhku, aku mengalami gempa dari bayang hampa. Patahannya terukir bersama rumit sungai arteri. Menembus katup dan mencampuraduk sirkulasi perasaan yang tak sempat menyebut sebuah nama.

Segalanya runyam, ketika langit dada menjadi malam. Tenggelam dibanjiri darah yang pecah dari ketakutan mengenal sebuah wajah. Sampai akhirnya, gempa dan hampa, membawa basah pada gugup tubuh dan resah wajah.

Inilah mungkin keinginan bertemu yang sudah tak bisa lagi dihalang ragu. Seketika dada bergemuruh tak peduli jeda. Seketika darah menyerah mengalir dalam liuk, yang tak pernah kita mengerti, kemana ia berujung menemui denyut.

Seandainya pertemuan tak perlu berhulu pada perpisahan, aku cukup menjadi darah dalam tubuhmu. Hanya sebatas darah yang cukup dengan memperhatikanmu tanpa pernah peduli kapan kau merasakanku. Aku yang sebetas darah, adalah padamu, dan kau adalah aku yang menjelma rindu.

Selama ini, aku adalah jarak dalam hembus nafasmu. Mengudara menemui lentera, menyalakan bianglala yang hendak bersua.

Di penghujung langit, matahari tertelan bulan, menemui ajal menjelma sinyal kepada mata, yang tak pernah siap mengeja senja.

Sejauh mana kita perlu siap, ketika raut sudah gugup dan mulut tertelan gagap.
Tak ada jalan lain, menemui dia, bukanlah perkara siap, tapilah sekadar sekuat apa aku menahan gegap.

Semenjak aku beranjak, aku perlahan mengerti arah gelisah menuntun langkah. Ada sekuntum kalimat yang aku nantikan berkembang dari tangkai bibirmu. Aku menjejak diantara gelap rongga dermaga yang hampa.

Tak ada sampan, kecuali beberapa suara yang tersimpan. Tak ada layar terkembang, kecuali sedikit bisik angin dari laut yang menyampaikan kabar. Sebelum laut pasang, tiang penyangga kapal telah terpancang. Menjadi sandar teruntuk diriku yang bangun diantara sadar dan nanar.

Kau yang kutuju, hanyalah rindu dan debar yang perlu ditenangkan.

Mungkin aku akan berjalan dengan lilin di tangan. Cahaya redup dan teduh, hidup sebagai peta penata langkah yang resah menuju wajahmu. Meniti sungai yang sepi dan syahdu dilantun kicau burung kenari. Deras air beradu batu, melahirkan riak menyanyikan jarak.

Ini adalah sungai dari pantai yang tak pernah disinggahi. Tubuh berpasirnya perawan dari jejak seorang perempuan. Harapan perlahan santun membangunkan dingin. Dan angin tak terekam keadaan, sungai masih sepi, dan aku perlahan sampai.

Bilanya jemari tak beruas, tak mungkin aku ingin menemuimu. Sebab tangan tak tercipta sekadar hampar, dia ada untuk melahirkan pegangan.

Ketika jarak telah melahirkan nama. Beranjak adalah melahirkan cinta. Tak ada yang bisa aku sabarkan pada debar, kecuali kamu yang tegar, menunggu rindu saling bertemu.

Dan aku adalah benang sari, yang berlari beradu detik, untuk sampai kepada putik. Bagaimanapun angin menyesatkan, aku yang rindu, akan sampai ke rumahmu.

Semenjak aku beranjak, kau adalah detak. Kepergianmu adalah kehilangan detak. Dan nisan adalah semayamku.

4 Comments

  • Dwi Septia June 15, 2016 Reply

    Dengan basah dan terbata. Aku menyebut namamu dalam jarak dan ragu.

    Great, mas. Bahasanya puitis banget 🙂

  • Karmila sari October 24, 2016 Reply

    Suka banget,, sama puisi-puisinya mas ijonk.
    Menyentuh hingga ke lubuk hati terdalam 😉

    • ijonk October 27, 2016 Reply

      terima kasih banyak atas apresiasinya 🙂

  • Anisanuryanti November 26, 2016 Reply

    Kata2 nya menyetuh bnget.. bkin air mata netes

Leave a Reply