pexels-photo-70737

Sepasang Pengantin

Sebuah hari, yang legi, dan beberapa bunga melepas pergi kelopak sepi. Dua anak manusia purapura menunggu rindu, coba meniupniup dadanya yang menyalanyala gugup, siap tersulut api suci. Dengan sesekali menggigiti bibirnya yang kemarau, lalu sedikit cemas,  rintik air hujan perlahan jatuh dari pelupuk mata. Keduanya bercanda dengan resah, yang sesaat lagi mereka sah dalam satu sampan menuju lautan.

Perempuan itu tidak pernah mengira akan tiba dia harus menitipkan degupnya pada jiwa yang entah dia bayangkan. Tempat di mana perempuan itu akan menyandarkan pipinya setiap matahari menjemput pergi. Tempat dimana perempuan itu menerjemahkan sandar di punggung yang siapnya membawang terapung di hutanhutan angan.

Kepada dadanyalah dia akan bersandar ketika fajar mencipta bayang, yang kelak akan dia rapalkan doa menjelang pintu terketuk dari wajah yang ia titipkan denyut. Perempuan itu, dengan jarum pintal dan seikat benang, akan menjahit luka yang sakit dan menciptakan langitlangit untuk bukit tempat mereka melamun bersama.

Sepasang pengantin, dua anak manusia saling berbagi sore, di tengah belantara saksi yang hijaunya subur menghatur doa ke langit. Dua anak manusia itu, kau dan aku, akan berlaut di darah yang sama. Pada layar yang akan kita kembangkan, satu nafas siap mengantar sampan menuju labuhan. Dan di antara malam dan malam, subuh ke subuh, aku ingin bersamamu. Semoga kita berdua takkan berpisah selamanya.

Pernikahan ini adalah ketika kau menitipkan denyut pada nadiku, dan kuserahkan mata pada kelopakmu. Saat ada sakit yang tak sempat kukirimkan pada langit, semua akan berhimpit dan selesai ketika kau dan aku menjadi kita.

Dan lelaki itu, suaranya menembus ilalang, membangunkan bungabunga, telah mengangkat jangkar dan siap membawa seorang perempuan berlayar. Kelak dalam perahu akan ada senyumsenyum kecil yang menemaninya menanti pagi. Tangis mungil yang membuat seorang pria menggigil lalu menyelam air menangkap takdir.

Pernikahan ini adalah saat ada suara yang tak sempat kubisikkan, kau mencoba dekatkan dirimu pada batang musim yang semi di bibirku. Ketika kita berdua saling membisik dan bicara maka ada saja warna lukisan yang tak selesai, dan bilanya satu diantara kita coba membisik dan mendengar, jentara bianglala membukakan pintu dunia. Itulah kita yang saling merebah dalam nikah, segala resah menjelma bunga indah.

Pada pernikahan, butuh kita berdua untuk memetik detik yang terpatri dari janjijanji. Setiap kecambah pada kehadiran kita menjadi sebuah kerajaan rindu yang membelenggu dari setiap kaudan aku. Mesti ada kita berdua untuk melahirkan kebahagiaan. Dengan kau yang mencoba menyebutnya dalam pengantar tidur, dan aku yang memahaminya dari ruangsiang.

Ketika hidup perlahan meredup, sepasang pengantin terus menyalanyala dari degup yang dia titip pada dada kekasihnya. Sebab suara kehidupan kian lama perlahan reda, terkikis pilu yang tak sabar menunggu. Meski sepi telah menjangkit hari, dalam kebersamaan sepi pun menari dan ramai kembali.

Pernikahan ini telah melahirkan kita sebagai pasir dan buih, yang pergi menjemput pagi dan kembali sebab tak ingin membuatmu sendiri.

Dan dalam pernikahan, sepasang pengantin, saling memeluk hati. Bersamamu jalani dunia menuju surga. Kaulah degup dalam dadaku, dan akulah denyut dalam nadimu.

4 Comments

  • Ulfa August 26, 2016 Reply

    Masyaa Allah tulisan yang indah, ^_^

    • ijonk September 8, 2016 Reply

      terima kasih 🙂

  • vonita October 11, 2016 Reply

    Masih ada gak bukunya mas ?

    • ijonk October 19, 2016 Reply

      masih, sila cek ijonkmuhammad.com/buku ya untuk pemesanan 🙂

Leave a Reply