ijonk 9 mini

Suatu Senja di Bulan November

Suatu senja di bulan November, di bawah pohon besar, yang akarnya menjuntai tak sampai membelah tanah. Aku menunggu dengan sangat, seorang wanita yang kemarin melewati banyak hari di jalan ini. Lewat daun jatuh yang rapuh tersentuh, aku mengerti dia seringkali memungut daundaun itu dan meletakkannya kembali.

Aku hanya sekali melihatnya, ketika mata kosongnya memandang pada tumpukan daun, dia berhenti dan menunggu daundaun itu jatuh dari rantingnya. Setelah itu, dia pergi, dan membasahi daun yang jatuh dengan air mata. Seketika, daun yang jatuh merasa ingin kembali pada pelukan dahan. Dan aku, hanya bisa tersengalsengal melihat wanita itu meninggalkan air mata dengan sedikit senyum ranum yang tetiba terarah kepadaku. Entah kenapa, aku hanya bisa diam tenggelam oleh air matanya. Dan dadaku terasa sesak dilumat tipis senyumnya.

Seandainya semua yang telah terjadi dapat terulang kembali. Aku memilih untuk tidak mendapatkan pertemuan itu. Sebab bukan pertemuan itu yang membuatku takut dan gugup. Tapi ada rahasia yang sulit kuduga setelah pertemuan itu. Begitulah manusia, seringkali gila ketika hanya sesekali berjumpa dan berharap pada pertemuan yang entah ada atau tidak.

Aku sudah telanjur, matanya yang gugur, berhambur bersama daundaun yang jatuh di mataku, gembur disirami air matamu. Aku sudah telanjur, dan waktu tak ada yang bisa mundur saat pertemuan pertama menjadi api pada keheninganku. Lalu rindu bergerak maju tak menoleh, memaksaku terus menunggu, barangkali ada pertemuan itu.

Tentu saja aku hanya bisa berharap. Ketika pohon besar itu perlahan tak lagi gugur daunnya. Akarnya telah kekar menjadi semacam ayunan bagi anakanak kecil yang singgah sebelum pulang ke rumah. Aku hanya bisa memperhatikan dari kejauhan, menunggu November ini masih ada waktu, setidaknya ada pertemuan kedua, yang membiarkannku menyebut nama.

Debar yang tak bersandar, inilah keadaan ketika seorang manusia yang tak pernah mengira akan ada cinta pada pertemuan pertama. Bahkan doa yang terucap menjadi semacam mantra yang tak pernah tertera pada langit.

Sampai pada senja, penghujung November, ketika senja tidak muncul pada waktunya. Aku pergi dan tidak lagi menunggumu. Kuletakkan daun gugur yang pernah kau pungut tepat dipijakan kau berhenti. Setidaktidaknya, aku akan mengingatmu, yang sekali waktu bertemu dan aku rindu entah kepada siapa.

Senja telah tiba. Aku tak lagi di sana. Lalu tanpa pernah kuketahui, seorang wanita melewati jalan itu, menatap tinggi pada akar pohon besar. Daun yang gugur, dipungutnya tanpa ada air mata. Dan dia menoleh ke arah kepergianku. Air matanya jatuh bersama daun itu.

Leave a Reply