ijonk 12 mini

Tertegun Saja

Kau dan aku, tertegun saja, menerjemahkan rumput yang termanggut dicium angin bersiut. Ini desir pertama yang mampir di halaman takdir kita, getirnya mengusir debu belukar yang merambati lamunan. Andai saja tepian jalan tak pernah gersang, aku ingin diam saja, tertegun saja, menunggumu melarikan mata yang terkaget beradu tatap denganku.

Trotoar dan derap kendaraan bermotor,  meluapnya asap, lalu kau yang berdiri menunggu lampu berganti rindu. Aku ingat batang tubuhmu berbaju ungu, kaki rantingmu melangkah malu menuju bangku ruang tunggu yang disediakan teruntuk kau dan aku. Mungkin saja di sana kita akan membuka halaman pertama dari buku keabadian.

Lalu hanya akan diam, bagiku yang tak kunjung siap dilahap degap dadamu. Pada suatu ketika yang tak pernah terungkap bahasa, aku gentar menangkap getar merah binar matamu. Mungkinkah kau mengerti kemana matahari menggarami laut. Ketika mata beradu tatap, dan kata menjelma cahaya menyapa kornea. Jemari kaki semacam menari berlari menuju rumahmu. Dan aku menyelesaikan ungkapan wajahmu pada kebun retina. Ini desir pertama, pastilah Tuhan berikan desir selanjutnya lewat mimpi kita nanti malam.

Sebenarnya ada makna terangkum bisik saat kita terdiam. Derap langkah kaki asing, bergantian menengahi dua manusia yang mematung. Pada pertemuan pertama, kau dan aku semacam sengaja membiarkan bisu menjadi lagu pengiring. Sebab hanyalah gagu, pupuk terindah yang membuatku rindu dan bertanya kenapa aku tak menanyakan namamu. Alasan itulah, yang membuatku kembali lagi esok hari, di tempat itu, aku menanti kau berdiri dan mencuri hati.

Aku beranjak dari  jejak kaki yang sulit terelak, membawa pulang sebungkus senyum yang siap aku kembangkan ketika malam berkunjung. Tak ada suara yang kau pendarkan, hanya bibir tergigit yang membuatku sumir merangkum tanda. Padahal kita telah tenggelam pada pusara labirin makna. Mencoba menerjemahkan tanda adalah kekalutan paling gusar dalam kesendirian. Tanda yang kita saling tukar, semacam upeti, bahwa kau dan aku kelak bisa bersatu.

Aku masih tertegun, melihat kau yang kusebut cinta, ternyata datang cukup dengan sekali perjumpaan. Dan kau pergi meninggalkan tanda, semacam jawaban yang lahir dari satu prasangka. Mungkin kita, cukup sekali jumpa, akan tahu kemana memulangkan cinta.

Leave a Reply